Beberapa saat yang lalu ramai diberitakan tentang efek buruk video games kepada anak2 bahkan orang dewasa. Ambil contoh di Amerika dimana salah seorang pelaku pembunuhan massal di sekolah yang diketahui merupakan seorang fans berat dari game Manhunt dan Grand Thef Auto, dimana keduanya merupakan game ‘dewasa’ yang menampilkan adegan pembunuhan (darah tentunya) dan seks. Contoh lain kasus di Cina dimana seorang pemuda membunuh temannya karena dicurangi dalam transaksi yang dilakukan dalam sebuah game MMORPG (Massive Multiplayer Online Role Playing Game)

Beberapa kasus serupa menimbulkan reaksi yang beragam. Ada yang menyalahkan game itu (tentu saja pembuatnya), ada juga yang merasa bahwa itu adaah salah orang tua yang lalai, ada juga yang menyalahkan pemain sendiri karena tidak bisa membedakan dunia nyata dan fiksi. Well, penulis merasa bahwa ketiganya benar.

1. Para developer game sekarang tidak begitu peduli pada moralitas. Bagi mereka yang penting adalah game mereka disukai dan mereka meraup untung besar walaupun mereka harus memasukkan seks dalam game tersebut. Sama seperti film, ada masa dimana pemain suka action yang berdarah-darah dan ada masa dimana tokoh wanita dengan dada superbesar dan nudity disukai.

2. Orang tua punya andil yang besar. Perlu diketahui bahwa video games juga punya rating sama seperti film. Mulai dari E untuk Everyone, PG untuk Parental Guide, T untuk Teenager, sampai 17+ untuk 17 tahun ke atas. Game dengan rating 17+ bukan berarti dipenuhi dengan adegan dewasa namun biasanya memiliki plot cerita yang berat seperti Okultisme dan lain2. Masalahnya game bajakan yang beradar di Indonesia memiliki rating yang juga ‘dibajak’. Semuanya berrating ‘E’ sehingga semua umur bisa membeli. Toh penjual toko tidak akan peduli dengan meminta KTP atau sebagainya. pernah ketika SMA, penulis ditawari penjual di langganan toko game penulis sebuah versi ‘BF’ dari The Sims. Penulis tahu dari majalah bahwa game itu bukanlah game porno frontal karena judulnya saja yaitu ‘Playboy Mansion’ sehingga penjual tokonya promosi dengan cara tidak sopan.  

3. Banyak pemain game sendiri yang terlalu tersedot dengan game itu sendiri. Penulis sendiri adalah maniak game, tapi tidak sebegitu maniaknya sampai tidak peduli dengan dunia sekitar (main game adalah cara terbaik menahan lapar seharian). Pemain maniak seperti ini biasanya menjadikan game sebagai pelarian dari hidup mereka yang mereka anggap menyedihkan. Batasan antara realita dan fiksi menjadi kabur sehingga pemain akan merasa bahwa hidup mereka adalah video game (sama seperti dunia ini adalah panggung sandiwara). 

Well, kontroversi tentang video game tidak saja berkutat pada urusan ‘dewasa’ tapi juga yang menyangkut ‘kepercayaan’. Sebut saja game ‘Xenogears’ yang pada masanya dianggap kontroversial karena dalam game tersebut eksis sebuah organisasi yang benar2 mirip dengan Gereja Katolik pada jaman pra-Martin Luther dimana Gereja tak ubahnya sebuah organisasi komersial. Game ini juga bermain-main dengan konsep Kristen tentang Adam and Eve. Nama2 Alkitab seperti nama anak yakub juga dijadikan nama untuk robot di game ini. Well, cukup ‘menyinggung’ jika anda adalah seorang yang fanatik tapi sebuah pelajaran sejarah yang bagus bagi penulis.

Biasanya developer game Jepang yang lebih berani dalam mengeksplor agama dalam game. Hal ini mengakibatkan beberapa game (banyak sebenarnya) Jepang yang tidak ditranslasikan kedalam bahasa Internasional (Inggris)  bahkan menginjak tanah Amerika.

Game berikut ini adalah salah satu game kontroversial yang ‘beruntung’ masuk ke pasaran Amerika padahal mengandung banyak sekali unsur agama. 

937269_82834_front.jpg

PERSONA 3

Game ini menyatukan unsur 2 dari beberapa agama khususnya tokoh2 religius. Contohnya Malaikat tertinggi seperti Michael dan Gabriel, Setan seperti Lucifer, bahkan Messiah. Mereka dicampur dengan kepercayaan lai seperi Shiva, Vishnu, dan lain2. Mereka diwujudkan dalam bentuk ‘persona’ sisi lain atau topeng yang dipakai manusia. Mudahnya, mereka hanyalah mahkluk yang bisa dipanggil dalam game ini. Bila anda seorang yang fanatik, jelas game ini amat menyinggung. Ada kasus di Amerika dimana orang tua melarang anaknya membeli game ini karena dianggap mengajarkan Atheisme. 

 http://boards.gamefaqs.com/gfaqs/genmessage.php?board=932312&topic=38119138

Tunggu Dulu !

Ini yang disebut dengan fanatik buta. Jelas dalam game ini Messiah yang dimaksud tidak mengarah pada Jesus Christ dan sama seperti nama2 lainnya. They are just names !. Apalah arti sebuah nama kata Shakespeare. Hal2 seperti ini bisa menandakan apakah seseorang itu berpikiran demokratis atau sempit. Bahkan di negara demokratis seperti Amerika masih saja ada orang yang berpikiran sempit. Kita harus bisa membedakan mana realita dan mana yang bukan.

One Comment

    • evelyn pratiwi yusuf
    • Posted September 14, 2007 at 6:45 am
    • Permalink

    Tapi menurut Jean justru realita yang kita lihat bukan realita yang sebenernya…
    * semoga dengan kemaniakanku maen PS2 aku tidak menjadi seorang pembunuh. AMin.* :)


Post a Comment

*
*